Pernah dengar proyek aplikasi yang “makan waktu berbulan-bulan” tapi tetap gagal dipakai pengguna?
Atau sistem yang sudah habis ratusan juta rupiah tapi malah tidak jalan sesuai harapan?
Itu bukan cerita langka — riset Standish Group (2023) menunjukkan hanya 35% proyek IT global yang berhasil tepat waktu, sesuai anggaran, dan sesuai kebutuhan user. Sisanya mengalami keterlambatan, pembengkakan biaya, atau gagal total.
Banyak dari kegagalan itu berasal dari kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari, terutama saat bekerja sama dengan software house.
Berikut 10 kesalahan umum yang sering dilakukan perusahaan saat mengembangkan aplikasi — dan bagaimana menghindarinya.
⚠️ 1. Tidak Punya Tujuan Bisnis yang Jelas
Banyak proyek dimulai dari kalimat: “Kita butuh aplikasi kayak kompetitor.”
Padahal tanpa tujuan bisnis yang spesifik (misalnya menaikkan efisiensi 20% atau mempercepat proses pelanggan 2x lipat), pengembangan akan kehilangan arah.
💡 Solusi: Mulai dengan KPI yang konkret dan relevan dengan strategi bisnis utama.
⚙️ 2. Tidak Melibatkan Pengguna Sejak Awal
Aplikasi sering gagal karena tidak sesuai kebutuhan pengguna.
Menurut laporan McKinsey, 70% produk digital gagal karena kurangnya riset user experience (UX).
💡 Solusi: Libatkan calon pengguna sejak tahap wireframe dan uji coba prototipe.
🧩 3. Tidak Ada Dokumentasi dan Scope yang Jelas
“Project brief”-nya cuma selembar PDF, tapi harapannya segunung.
Kurangnya dokumentasi bisa menimbulkan perbedaan persepsi antara klien dan developer.
💡 Solusi: Gunakan dokumen Software Requirement Specification (SRS) atau Product Brief dengan daftar fitur, flow, dan batasan sistem yang disepakati.
🕒 4. Ingin Serba Cepat Tanpa Tahap Validasi
Beberapa perusahaan ingin aplikasi langsung “go live” tanpa melalui tahapan uji performa atau keamanan.
Padahal 80% bug besar muncul setelah deployment pertama (Data: IEEE Software, 2022).
💡 Solusi: Jalankan fase UAT (User Acceptance Test) dan Security Testing sebelum peluncuran.
💰 5. Salah Menghitung Anggaran
Kesalahan klasik: hanya menghitung biaya pembuatan, tanpa menghitung biaya maintenance, server, dan pengembangan fitur lanjutan.
💡 Solusi: Siapkan lifecycle budget minimal 1,5–2x biaya awal agar proyek bisa sustain.
🤝 6. Salah Pilih Software House
Banyak perusahaan memilih vendor hanya berdasarkan harga terendah.
Padahal, kualitas kode, keamanan data, dan pengalaman industri jauh lebih penting.
💡 Solusi: Evaluasi portofolio, metode kerja, sertifikasi keamanan (misal ISO 27001), dan review klien sebelumnya.
🧠 7. Tidak Ada Product Owner Internal
Tanpa “jembatan” antara tim bisnis dan developer, keputusan sering terlambat atau salah arah.
💡 Solusi: Tetapkan satu orang internal sebagai product owner yang bisa memahami kebutuhan bisnis sekaligus bahasa teknis.
🧱 8. Terlalu Banyak Fitur di Awal
Ingin semua fitur langsung jadi di versi pertama hanya akan membuat proyek membengkak.
💡 Solusi: Gunakan metode MVP (Minimum Viable Product) – luncurkan versi awal dengan fitur inti, kumpulkan data pengguna, lalu lanjutkan iterasi.
🔒 9. Abaikan Keamanan dan Skalabilitas
Banyak startup lupa menyiapkan sistem login aman, backup, atau enkripsi data.
Padahal Indonesia mengalami lebih dari 11 juta serangan siber hanya di kuartal pertama 2024 (Data: BSSN).
💡 Solusi: Terapkan security by design dan pilih infrastruktur yang bisa tumbuh sesuai skala bisnis.
📉 10. Tidak Evaluasi Pasca-Peluncuran
Setelah aplikasi rilis, banyak perusahaan langsung “move on” tanpa memantau performa.
Padahal data pengguna adalah tambang insight berharga.
💡 Solusi: Gunakan analytics dashboard untuk memantau engagement, retention, dan bug report.
🚀 Kesimpulan: Sukses Bukan Sekadar “Jadi Aplikasinya”
Membangun aplikasi bukan soal siapa paling cepat coding, tapi siapa paling paham tujuan bisnisnya.
Software house yang baik seperti PT Inovasi Digital Sadajiwa (IDS) bukan hanya pembuat kode, tapi partner strategi digital yang membantu klien menghindari kesalahan-kesalahan di atas melalui riset, manajemen proyek yang ketat, dan penerapan best practice AI & software engineering.
🔖 Hashtag
#KesalahanSoftwareHouse #SoftwareHouseIndonesia #PengembanganAplikasi #DigitalTransformation #AIIndonesia #AppDevelopment #TechStrategy #StartupIndonesia #inovasidigitalsadajiwa #idscorp
