Kenapa Banyak Proyek Aplikasi Gagal? (dan Solusinya)

Pernah dengar proyek aplikasi yang “sudah habis ratusan juta” tapi akhirnya tidak dipakai?
Atau sistem yang katanya akan mengubah bisnis, malah bikin repot tim internal?
Faktanya, fenomena seperti itu bukan hal langka — dan datanya cukup mengejutkan.

Menurut laporan Standish Group CHAOS Report 2023, hanya 35% proyek IT di dunia yang sukses (tepat waktu, sesuai anggaran, dan sesuai kebutuhan pengguna). Sementara 19% gagal total, dan sisanya “setengah gagal”—selesai tapi tidak digunakan karena tidak memenuhi ekspektasi.
Di Indonesia, pola serupa terlihat: banyak perusahaan yang mengembangkan aplikasi internal atau sistem digital, tapi akhirnya “mangkrak” setelah beberapa bulan.

Lantas, kenapa begitu banyak proyek aplikasi gagal — dan bagaimana cara mencegahnya?


⚠️ 1. Tujuan Tidak Jelas Sejak Awal

Banyak proyek dimulai karena tren, bukan kebutuhan bisnis nyata.
Kalimat seperti “Pokoknya kita harus punya aplikasi” sering terdengar di ruang rapat, tanpa ada indikator kinerja yang jelas.
Padahal, tanpa tujuan yang terukur (misalnya efisiensi waktu kerja 30% atau peningkatan transaksi 2x), proyek akan kehilangan arah.

💡 Solusi: Tetapkan business goal yang spesifik dan pastikan semua pihak (manajemen, IT, software house) paham arah yang sama.


🧩 2. Komunikasi Buruk antara Klien & Developer

Salah satu penyebab klasik kegagalan proyek aplikasi adalah miskomunikasi.
Sering kali klien menganggap “developer pasti tahu maunya saya,” sementara tim developer bekerja berdasarkan asumsi.
Hasilnya? Aplikasi selesai tapi tidak sesuai kebutuhan operasional.

💡 Solusi: Gunakan dokumentasi kebutuhan (Software Requirement Specification), lakukan review berkala, dan komunikasikan feedback setiap sprint.


🕐 3. Ingin Cepat, Tapi Lupa Proses

Keinginan “launch secepat mungkin” sering membuat proses testing dan validasi dilewati.
Padahal data dari IEEE Software Journal (2022) menunjukkan 80% bug kritis muncul di fase akhir pengembangan—dan biayanya bisa 5x lipat lebih mahal jika diperbaiki setelah aplikasi dirilis.

💡 Solusi: Jadwalkan waktu untuk UAT (User Acceptance Test), stress test, dan perbaikan sebelum peluncuran.


💰 4. Salah Menghitung Anggaran

Banyak perusahaan hanya menghitung biaya pembuatan, tapi lupa dengan maintenance, server, API cost, dan security update.
Alhasil, aplikasi terhenti di tengah jalan karena dana tambahan tidak tersedia.

💡 Solusi: Siapkan lifecycle budget minimal 1,5–2x dari biaya awal agar proyek bisa berkembang berkelanjutan.


🧠 5. Tidak Ada Product Owner Internal

Tanpa orang internal yang bertanggung jawab mengarahkan fitur sesuai bisnis, keputusan jadi lambat.
Tim developer menunggu arahan, tim bisnis menunggu hasil — dan proyek macet.

💡 Solusi: Tunjuk product owner internal yang memahami bisnis dan bisa mengambil keputusan cepat.


🧱 6. Terlalu Banyak Fitur Sekaligus

Fitur yang terlalu banyak di awal membuat proyek sulit dikontrol, bug meningkat, dan waktu molor.
Banyak startup besar justru mulai dari MVP (Minimum Viable Product) — versi sederhana tapi fungsional.

💡 Solusi: Fokus pada fitur utama yang benar-benar dibutuhkan. Rilis versi awal, kumpulkan data pengguna, lalu iterasi.


🔒 7. Mengabaikan Keamanan & Infrastruktur

Sering kali keamanan dianggap “nanti saja kalau sudah jalan.”
Padahal serangan siber meningkat pesat: BSSN mencatat 11 juta anomali siber hanya di kuartal I 2024.
Satu celah kecil di API atau database bisa membuat reputasi perusahaan hancur.

💡 Solusi: Terapkan security by design — enkripsi data, audit akses, backup otomatis, dan uji penetrasi sebelum go-live.


📉 8. Tidak Ada Evaluasi Pasca-Peluncuran

Banyak proyek berhenti di tahap rilis tanpa ada evaluasi performa.
Padahal insight paling penting justru muncul setelah aplikasi digunakan publik.

💡 Solusi: Gunakan alat analitik (seperti Google Analytics atau Mixpanel) untuk memantau penggunaan, crash, dan feedback pengguna.


💼 9. Pilih Vendor Hanya Karena Harga

Murah di depan sering mahal di belakang.
Software house yang menawarkan harga terlalu rendah sering mengorbankan kualitas dokumentasi, testing, atau keamanan.

💡 Solusi: Pilih software house yang terbukti punya pengalaman industri, referensi klien nyata, dan sistem manajemen proyek yang jelas.


🚀 10. Tidak Melihat Aplikasi Sebagai Investasi Jangka Panjang

Aplikasi bukan produk sekali jadi, tapi aset bisnis digital yang butuh pengembangan berkelanjutan.
Tanpa rencana jangka panjang, sistem akan cepat usang dan tidak bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pasar.

💡 Solusi: Jadikan aplikasi bagian dari digital roadmap perusahaan—bukan sekadar proyek IT, tapi strategi bisnis berkelanjutan.


🧭 Kesimpulan

Proyek aplikasi gagal bukan karena teknologi buruk, tapi karena manajemen, komunikasi, dan visi yang lemah.
Software house yang baik seperti PT Inovasi Digital Sadajiwa (IDS) membantu perusahaan tidak hanya membuat aplikasi, tetapi juga membangun strategi digital yang berkelanjutan dengan pendekatan AI, riset pengguna, dan tata kelola proyek profesional.


🔖 Hashtag

#gagalproyekaplikasi #SoftwareHouseIndonesia #DigitalTransformation #AplikasiBisnis #AIIndonesia #AppDevelopment #TechStrategy #StartupIndonesia #inovasidigitalsadajiwa #idscorp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *