Software House untuk Legacy System Modernization: Cara Memperbarui Sistem Lama Tanpa Mengganggu Operasional

Legacy system modernization adalah proses memperbarui sistem lama perusahaan agar lebih aman, terintegrasi, mudah dikembangkan, dan tetap mendukung operasional tanpa harus menghentikan seluruh aktivitas bisnis. Banyak perusahaan, BUMN, dan instansi pemerintah masih bergantung pada sistem lama yang sudah berjalan bertahun-tahun. Sistem tersebut sering penting untuk operasional, tetapi mulai sulit dirawat, sulit diintegrasikan, lambat, tidak fleksibel, dan belum siap mendukung kebutuhan data, dashboard, automation, atau AI.

PT Inovasi Digital Sadajiwa atau IDSCORP membantu organisasi melakukan legacy system modernization secara bertahap, aman, dan terukur. Pendekatan ini penting karena sistem lama tidak selalu bisa langsung diganti total. Di banyak perusahaan, sistem lama masih menyimpan data penting, digunakan oleh banyak divisi, dan menjadi bagian dari proses bisnis harian.

Karena itu, modernisasi sistem lama harus dilakukan dengan strategi yang hati-hati: memahami sistem existing, memetakan risiko, menentukan prioritas, membuat integrasi, lalu memperbarui modul secara bertahap.

Kenapa Legacy System Modernization Penting untuk Perusahaan?

Legacy system modernization penting karena sistem lama sering menjadi penghambat transformasi digital. Pada awalnya, sistem tersebut mungkin sangat membantu operasional. Namun setelah beberapa tahun, kebutuhan perusahaan berubah. Jumlah pengguna bertambah, data semakin besar, proses bisnis makin kompleks, dan kebutuhan manajemen terhadap laporan real-time semakin tinggi.

Masalahnya, sistem lama sering tidak dirancang untuk kebutuhan tersebut.

Beberapa tanda sistem lama mulai menjadi hambatan adalah:

  1. Sistem lambat saat jumlah data meningkat.
  2. Sulit diintegrasikan dengan aplikasi baru.
  3. Tidak memiliki API yang memadai.
  4. Tampilan sulit digunakan oleh pengguna modern.
  5. Dokumentasi teknis tidak lengkap.
  6. Developer lama sudah tidak tersedia.
  7. Teknologi yang digunakan sudah usang.
  8. Biaya maintenance semakin tinggi.
  9. Risiko keamanan meningkat.
  10. Data sulit dipakai untuk dashboard dan AI.
  11. Proses bisnis masih banyak dilakukan manual.
  12. Sistem sulit dikembangkan sesuai kebutuhan baru.

Jika kondisi ini dibiarkan, perusahaan akan terus bergantung pada sistem yang semakin sulit dikendalikan. Akibatnya, inovasi melambat, biaya operasional meningkat, dan risiko bisnis makin besar.

Legacy system modernization membantu perusahaan memperbarui fondasi digital tanpa harus mengganggu operasional yang sudah berjalan.

Apa Itu Legacy System dan Kenapa Tidak Bisa Langsung Ditinggalkan?

Legacy system adalah sistem lama yang masih digunakan perusahaan untuk menjalankan proses penting. Sistem ini bisa berupa aplikasi desktop, aplikasi web lama, database lama, sistem internal, ERP lama, aplikasi operasional, sistem laporan, atau software custom yang dibangun bertahun-tahun sebelumnya.

Sistem lama tidak selalu buruk. Banyak legacy system justru masih digunakan karena:

  1. Sudah terbukti berjalan.
  2. Menyimpan data historis penting.
  3. Digunakan oleh banyak divisi.
  4. Menjadi bagian dari proses bisnis kritikal.
  5. Sulit diganti karena prosesnya kompleks.
  6. Biaya penggantian total terlalu besar.
  7. Pengguna sudah terbiasa dengan alurnya.
  8. Ada risiko operasional jika sistem dihentikan tiba-tiba.

Karena itu, modernisasi sistem lama tidak boleh dilakukan secara gegabah.

Mengganti semua sistem dalam satu waktu bisa menimbulkan risiko besar, seperti downtime, kehilangan data, resistensi pengguna, proses bisnis terganggu, dan biaya proyek membengkak.

Pendekatan yang lebih aman adalah melakukan legacy system modernization secara bertahap. Perusahaan dapat mempertahankan fungsi yang masih baik, memperbaiki bagian yang bermasalah, membangun integrasi, dan mengganti modul secara selektif.

Dengan cara ini, sistem lama dapat diperbarui tanpa membuat operasional berhenti.

Risiko Jika Perusahaan Terlalu Lama Mempertahankan Sistem Lama

Mempertahankan sistem lama tanpa rencana modernisasi dapat menimbulkan banyak risiko. Risiko ini tidak selalu terlihat di awal, tetapi bisa menjadi masalah besar ketika perusahaan ingin melakukan transformasi digital.

1. Risiko keamanan

Sistem lama sering menggunakan teknologi yang tidak lagi mendapatkan update keamanan. Jika tidak diperbarui, celah keamanan dapat meningkat.

2. Biaya maintenance membengkak

Semakin tua sistem, semakin sulit mencari tenaga teknis yang memahami teknologi tersebut. Akibatnya, biaya perawatan bisa semakin mahal.

3. Integrasi sulit dilakukan

Sistem lama sering tidak memiliki API atau struktur data yang mudah dihubungkan dengan aplikasi modern. Ini membuat integrasi dengan dashboard, mobile app, cloud, atau AI menjadi sulit.

4. Ketergantungan pada individu tertentu

Jika hanya satu atau dua orang yang memahami sistem lama, perusahaan memiliki risiko besar ketika orang tersebut tidak lagi tersedia.

5. Pengalaman pengguna buruk

User interface yang ketinggalan zaman membuat pengguna bekerja lebih lambat, sering salah input, dan cenderung membuat proses tambahan di luar sistem.

6. Data sulit dimanfaatkan

Data yang tersimpan di sistem lama sering sulit diakses untuk laporan real-time, business intelligence, analytics, atau AI.

7. Transformasi digital terhambat

Perusahaan mungkin ingin membangun dashboard, workflow automation, atau AI, tetapi sistem lama tidak siap mendukung kebutuhan tersebut.

Legacy system modernization membantu perusahaan mengurangi risiko ini secara bertahap.

Pendekatan Legacy System Modernization yang Aman

Legacy system modernization tidak selalu berarti mengganti sistem lama secara total. Ada beberapa pendekatan yang dapat dipilih sesuai kondisi organisasi.

1. Rehosting

Rehosting berarti memindahkan sistem lama ke infrastruktur yang lebih baru tanpa banyak mengubah kode. Pendekatan ini dapat membantu perusahaan meningkatkan stabilitas infrastruktur dengan risiko perubahan yang lebih rendah.

2. Refactoring

Refactoring berarti memperbaiki struktur kode agar lebih rapi, efisien, dan mudah dikembangkan tanpa mengubah fungsi utama sistem. Pendekatan ini cocok jika sistem masih relevan, tetapi kode sulit dirawat.

3. Rearchitecting

Rearchitecting berarti mengubah arsitektur sistem agar lebih modern, scalable, dan mudah diintegrasikan. Misalnya memecah sistem monolitik menjadi beberapa modul atau service.

4. Rebuilding

Rebuilding berarti membangun ulang sistem dengan teknologi baru, tetapi tetap mempertahankan fungsi bisnis yang penting. Pendekatan ini cocok jika sistem lama terlalu sulit diperbaiki.

5. Replacing

Replacing berarti mengganti sistem lama dengan sistem baru. Pendekatan ini perlu dilakukan hati-hati karena risiko perubahan operasional lebih besar.

6. Wrapping atau API Layer

Wrapping berarti membangun lapisan API di atas sistem lama agar dapat terhubung dengan aplikasi baru. Ini sering menjadi pilihan realistis ketika sistem lama masih harus digunakan, tetapi perlu diintegrasikan dengan dashboard, mobile app, atau workflow baru.

7. Modular Modernization

Pendekatan ini memperbarui sistem per modul. Perusahaan dapat memilih modul yang paling kritikal lebih dulu, lalu memperbarui bagian lain secara bertahap.

Dalam banyak kasus enterprise, pendekatan terbaik adalah kombinasi dari beberapa strategi di atas.

Kenapa Software House Diperlukan dalam Legacy System Modernization?

Software house diperlukan karena modernisasi sistem lama membutuhkan pemahaman teknis dan bisnis secara bersamaan. Tantangannya bukan hanya menulis kode baru, tetapi memastikan sistem tetap berjalan, data aman, pengguna tidak terganggu, dan proses bisnis tetap terkendali.

Software house yang berpengalaman membantu perusahaan dalam beberapa hal:

  1. Melakukan assessment sistem lama.
  2. Membaca struktur database dan alur data.
  3. Memetakan proses bisnis yang bergantung pada sistem lama.
  4. Menentukan risiko teknis dan operasional.
  5. Menyusun roadmap modernisasi.
  6. Membuat strategi migrasi data.
  7. Membangun API dan integrasi.
  8. Mendesain ulang UI/UX jika diperlukan.
  9. Mengembangkan modul baru secara bertahap.
  10. Menjalankan testing dan user acceptance test.
  11. Menyiapkan fallback plan.
  12. Mendampingi deployment dan maintenance.

Sebagai software house indonesia dan konsultan IT indonesia, IDSCORP melihat legacy system modernization sebagai proyek strategis. Modernisasi tidak boleh hanya mengejar teknologi baru, tetapi harus menjaga keberlangsungan bisnis.

Sistem lama boleh diperbarui, tetapi operasional tidak boleh dikorbankan.

Tahapan Legacy System Modernization Tanpa Mengganggu Operasional

Agar modernisasi berjalan aman, perusahaan perlu mengikuti tahapan yang sistematis.

1. System assessment

Tahap pertama adalah memahami kondisi sistem lama.

Hal yang diperiksa meliputi:

  1. Teknologi yang digunakan.
  2. Struktur database.
  3. Arsitektur aplikasi.
  4. Modul yang masih aktif.
  5. Integrasi yang sudah ada.
  6. Jumlah pengguna.
  7. Proses bisnis yang bergantung pada sistem.
  8. Masalah performa.
  9. Risiko keamanan.
  10. Dokumentasi teknis.

Assessment membantu menentukan apakah sistem perlu diperbaiki, diintegrasikan, dibangun ulang, atau diganti secara bertahap.

2. Business process mapping

Modernisasi harus memahami proses bisnis. Sistem lama mungkin memiliki fitur yang terlihat sederhana, tetapi mendukung proses penting di belakangnya.

Pemetaan proses membantu menghindari kehilangan fungsi penting saat sistem diperbarui.

3. Risk mapping

Setiap perubahan sistem memiliki risiko. Risiko yang perlu dipetakan antara lain:

  1. Downtime.
  2. Kehilangan data.
  3. Gangguan operasional.
  4. Kesalahan migrasi.
  5. Resistensi pengguna.
  6. Kegagalan integrasi.
  7. Perbedaan hasil laporan.
  8. Masalah keamanan.

Risk mapping membantu perusahaan menyiapkan mitigasi sejak awal.

4. Modernization roadmap

Setelah assessment, perusahaan perlu menyusun roadmap. Roadmap menentukan modul mana yang diperbarui lebih dulu, sistem mana yang perlu diintegrasikan, dan tahap mana yang paling aman dilakukan.

5. Data migration planning

Data lama sering menjadi bagian paling sensitif. Perusahaan perlu memastikan data dipindahkan, dibersihkan, divalidasi, dan diuji dengan benar.

6. Pilot implementation

Modernisasi sebaiknya dimulai dari pilot. Misalnya satu modul, satu unit kerja, satu cabang, atau satu proses tertentu.

7. Parallel run

Untuk mengurangi risiko, sistem lama dan sistem baru dapat berjalan bersamaan dalam periode tertentu. Ini membantu tim membandingkan output dan memastikan sistem baru bekerja sesuai kebutuhan.

8. User training

Pengguna harus dilatih agar tidak merasa sistem baru menjadi beban. Training juga membantu mengurangi resistensi perubahan.

9. Gradual rollout

Setelah pilot berhasil, sistem diperluas secara bertahap ke unit lain.

10. Monitoring dan improvement

Setelah go live, sistem perlu dipantau, diperbaiki, dan dikembangkan sesuai kebutuhan bisnis.

Tahapan ini membantu perusahaan memperbarui sistem tanpa menghentikan operasional utama.

Legacy System Modernization sebagai Fondasi Integrasi, Dashboard, dan AI

Legacy system modernization penting karena banyak inisiatif digital modern membutuhkan data yang terhubung dan sistem yang fleksibel.

Jika sistem lama tidak dimodernisasi, perusahaan akan kesulitan membangun:

  1. Dashboard monitoring.
  2. Executive dashboard.
  3. Workflow automation.
  4. Mobile application.
  5. Data analytics.
  6. AI assistant.
  7. Predictive analytics.
  8. Document automation.
  9. API integration.
  10. Real-time reporting.
  11. Compliance monitoring.
  12. Customer portal.

AI dan dashboard membutuhkan data yang dapat diakses, dibaca, dan diproses. Jika data terkunci di sistem lama, perusahaan tidak bisa memanfaatkannya secara maksimal.

Modernisasi sistem lama membantu membuka akses data secara aman. Perusahaan tidak harus langsung membuang sistem lama. Dalam banyak kasus, membangun API layer atau data integration sudah cukup untuk membuat sistem lama terhubung dengan teknologi baru.

Contohnya:

  1. Data dari legacy system ditarik ke dashboard direksi.
  2. Sistem lama dihubungkan dengan mobile app untuk input lapangan.
  3. Data historis digunakan untuk predictive analytics.
  4. Dokumen lama dijadikan knowledge base untuk AI assistant.
  5. Workflow lama diperbarui menjadi approval automation.
  6. Laporan manual diubah menjadi reporting automation.

Dengan cara ini, legacy system modernization menjadi jembatan antara sistem lama dan kebutuhan digital masa depan.

Pengalaman IDSCORP dalam Software, Integrasi, AI, dan Sistem Enterprise

IDSCORP memiliki pengalaman membantu organisasi besar membangun dan mengembangkan solusi digital enterprise. Pengalaman ini penting karena modernisasi sistem lama tidak dapat dilepaskan dari proses bisnis, data, integrasi, keamanan, dan kebutuhan pengguna.

PT Inovasi Digital Sadajiwa telah dipercaya oleh perusahaan dan institusi besar seperti Pertamina, PLN Nusantara Power, DPR RI, Kementerian Koordinator Bidang Hukum RI, serta puluhan korporasi dan BUMN lainnya.

Beberapa pengalaman yang relevan antara lain:

Platform monitoring machine learning untuk PLN Nusantara Power

Platform monitoring machine learning membantu organisasi memantau performa, membaca indikator penting, dan mendukung keputusan berbasis data. Proyek seperti ini menunjukkan pentingnya data yang terstruktur dan sistem yang dapat berkembang untuk kebutuhan analytics.

Sistem digital inspeksi terminal BBM untuk Pertamina

Sistem digital inspeksi terminal BBM membantu proses inspeksi lapangan, pencatatan temuan, tracking tindak lanjut, approval, dan monitoring operasional. Solusi seperti ini sering membutuhkan integrasi antara proses lapangan dan kebutuhan manajemen.

Aplikasi pengelolaan limbah B3 untuk PLN

Aplikasi pengelolaan limbah B3 membantu administrasi, dokumen, pelaporan, monitoring, dan compliance lingkungan. Sistem seperti ini menunjukkan pentingnya data yang rapi, audit trail, dan pelaporan yang dapat ditelusuri.

Platform AI untuk PR dan marketing Reputifai

Reputifai menggunakan AI untuk media monitoring, sentiment analysis, campaign intelligence, dan pengambilan keputusan komunikasi berbasis data. Ini menunjukkan bagaimana data yang terhubung dapat dikembangkan menjadi insight strategis berbasis AI.

Sebagai software house indonesia dan konsultan AI indonesia, IDSCORP membantu organisasi membangun sistem yang tidak hanya berjalan secara teknis, tetapi juga relevan bagi operasional dan manajemen.

Peran IDSCORP dalam Legacy System Modernization

IDSCORP membantu perusahaan melakukan legacy system modernization melalui pendekatan konsultatif dan implementatif. Artinya, IDSCORP dapat membantu mulai dari assessment sampai pengembangan sistem baru, integrasi, deployment, dan maintenance.

Layanan yang relevan mencakup:

  1. TechStrategist untuk IT assessment, roadmap, dan solution architecture.
  2. CodeCraft untuk software development dan modernisasi aplikasi.
  3. AI Innovate untuk AI, automation, dan analytics.
  4. AILearn untuk pelatihan AI dan adopsi teknologi.
  5. ITForce untuk dukungan talenta IT dan managed services.
  6. DigiBoost untuk kebutuhan digital campaign berbasis data.
  7. PRIVAI untuk AI on-premise dengan kontrol data lebih tinggi.

Pendekatan IDSCORP dalam modernisasi sistem lama mencakup:

  1. Assessment sistem existing.
  2. Pemetaan proses bisnis.
  3. Analisis risiko operasional.
  4. Strategi integrasi dan migrasi data.
  5. Perancangan arsitektur baru.
  6. Pengembangan modul bertahap.
  7. Testing dan user validation.
  8. Deployment dengan mitigasi downtime.
  9. Training pengguna.
  10. Maintenance dan continuous improvement.

Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat memperbarui sistem lama tanpa harus mengambil risiko perubahan besar sekaligus.

Checklist Sebelum Melakukan Legacy System Modernization

Sebelum memulai modernisasi, perusahaan sebaiknya menjawab beberapa pertanyaan berikut:

  1. Sistem lama digunakan untuk proses apa saja?
  2. Divisi mana yang paling bergantung pada sistem tersebut?
  3. Data penting apa yang tersimpan di dalamnya?
  4. Apakah sistem memiliki dokumentasi teknis?
  5. Apakah sistem bisa diakses melalui API?
  6. Apakah database masih dapat dipelihara?
  7. Apakah ada risiko keamanan?
  8. Apakah pengguna sering mengalami kendala?
  9. Apakah sistem perlu diganti total atau cukup diintegrasikan?
  10. Modul mana yang paling kritikal?
  11. Apakah ada kebutuhan dashboard atau AI?
  12. Bagaimana strategi backup dan recovery?
  13. Apakah ada rencana parallel run?
  14. Bagaimana proses training pengguna?
  15. Apa KPI keberhasilan modernisasi?

Checklist ini membantu perusahaan memulai modernisasi dengan lebih matang.

Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Memperbarui Sistem Lama

Legacy system modernization memiliki risiko jika dilakukan tanpa strategi yang tepat. Beberapa kesalahan yang perlu dihindari adalah:

  1. Mengganti sistem total tanpa assessment.
  2. Mengabaikan proses bisnis yang bergantung pada sistem lama.
  3. Tidak memetakan data historis.
  4. Tidak membuat backup yang aman.
  5. Tidak menyiapkan parallel run.
  6. Tidak melibatkan pengguna.
  7. Tidak menguji output sistem baru.
  8. Mengabaikan keamanan dan akses.
  9. Tidak membuat dokumentasi teknis baru.
  10. Tidak menyiapkan maintenance.
  11. Terlalu fokus pada teknologi baru.
  12. Tidak menghitung risiko downtime.
  13. Tidak memiliki fallback plan.
  14. Mengabaikan integrasi dengan sistem lain.
  15. Tidak menentukan KPI keberhasilan.

Modernisasi sistem lama harus dilakukan dengan prinsip hati-hati, bertahap, dan berbasis risiko.

KPI untuk Mengukur Keberhasilan Legacy System Modernization

Agar modernisasi sistem lama dapat dinilai secara objektif, perusahaan perlu menentukan KPI sejak awal.

Beberapa KPI yang dapat digunakan adalah:

  1. Penurunan downtime.
  2. Peningkatan kecepatan sistem.
  3. Pengurangan biaya maintenance.
  4. Jumlah proses manual yang berkurang.
  5. Jumlah integrasi baru yang berhasil.
  6. Kecepatan pembuatan laporan.
  7. Tingkat adopsi pengguna.
  8. Penurunan error input.
  9. Peningkatan keamanan akses.
  10. Ketersediaan dokumentasi teknis.
  11. Jumlah modul yang berhasil dimodernisasi.
  12. Kesiapan data untuk dashboard dan AI.
  13. Waktu respons sistem.
  14. Kepuasan pengguna internal.
  15. Penurunan risiko operasional.

KPI ini membantu manajemen melihat bahwa modernisasi bukan hanya proyek IT, tetapi investasi untuk efisiensi dan keberlanjutan bisnis.

FAQ

1. Apa itu legacy system modernization?

Legacy system modernization adalah proses memperbarui sistem lama agar lebih aman, stabil, terintegrasi, mudah dikembangkan, dan sesuai kebutuhan bisnis saat ini. Modernisasi dapat dilakukan dengan memperbaiki kode, membangun API, memigrasi data, mengganti modul tertentu, atau membangun ulang sistem secara bertahap tanpa menghentikan operasional utama.

2. Kenapa perusahaan tidak bisa langsung mengganti sistem lama?

Perusahaan tidak selalu bisa langsung mengganti sistem lama karena sistem tersebut sering menyimpan data penting, digunakan banyak divisi, dan mendukung proses bisnis kritikal. Jika diganti mendadak, risiko downtime, kehilangan data, resistensi pengguna, dan gangguan operasional bisa meningkat. Karena itu, modernisasi bertahap lebih aman.

3. Apa tanda sistem lama perlu dimodernisasi?

Sistem lama perlu dimodernisasi jika sering lambat, sulit diintegrasikan, teknologi sudah usang, biaya maintenance meningkat, dokumentasi tidak lengkap, risiko keamanan tinggi, tampilan sulit digunakan, atau data sulit dimanfaatkan untuk dashboard, automation, dan AI. Tanda lain adalah ketergantungan pada satu orang teknis tertentu.

4. Apa metode terbaik untuk modernisasi sistem lama?

Metode terbaik tergantung kondisi sistem. Beberapa pilihan meliputi rehosting, refactoring, rearchitecting, rebuilding, replacing, API wrapping, atau modular modernization. Untuk perusahaan besar, pendekatan bertahap biasanya lebih aman karena dapat mengurangi risiko downtime dan menjaga operasional tetap berjalan.

5. Apakah legacy system modernization bisa mendukung AI?

Ya. Modernisasi sistem lama dapat membuka akses data, memperbaiki struktur sistem, dan membangun integrasi yang dibutuhkan untuk AI. Setelah data lebih rapi dan mudah diakses, perusahaan dapat mengembangkan dashboard, predictive analytics, AI assistant, workflow automation, document automation, dan decision support system.

6. Apakah IDSCORP bisa membantu legacy system modernization?

Ya. IDSCORP membantu perusahaan, BUMN, dan instansi pemerintah melakukan assessment sistem lama, menyusun roadmap modernisasi, membangun API, mengembangkan modul baru, melakukan migrasi data, integrasi sistem, testing, deployment, training, dan maintenance. IDSCORP juga dapat membantu menyiapkan sistem agar siap untuk dashboard, automation, dan AI.

Kesimpulan

Legacy system modernization membantu perusahaan memperbarui sistem lama tanpa mengganggu operasional yang sudah berjalan. Modernisasi tidak selalu berarti mengganti seluruh sistem. Dalam banyak kasus, perusahaan dapat memulai dari assessment, integrasi data, API layer, perbaikan modul, migrasi bertahap, parallel run, dan pengembangan sistem baru secara selektif.

PT Inovasi Digital Sadajiwa atau IDSCORP hadir sebagai software house indonesia dan konsultan IT atau AI yang membantu perusahaan, BUMN, dan instansi pemerintah melakukan legacy system modernization secara aman, terukur, dan berdampak nyata. Dengan pengalaman 20 tahun, layanan TechStrategist, CodeCraft, AI Innovate, AILearn, ITForce, DigiBoost, dan PRIVAI, IDSCORP dapat menjadi partner strategis untuk memperbarui sistem lama, mengintegrasikan data, membangun dashboard, dan menyiapkan fondasi AI enterprise.

Untuk berdiskusi mengenai legacy system modernization, modernisasi sistem lama, software development, system integration, dashboard, automation, atau AI untuk perusahaan Anda, hubungi IDSCORP melalui info@idscorp.id atau WhatsApp +62 819 9913 6511.

Hashtag:
#IDSCORP #IDSCorpID #InovasiDigitalSadajiwa #LegacySystemModernization #ModernisasiSistem #SoftwareHouseIndonesia #KonsultanITIndonesia #KonsultanAIIndonesia #SystemIntegration #SoftwareDevelopment #EnterpriseSystem #TransformasiDigital #DigitalTransformation #AIIndonesia #WorkflowAutomation #DataIntegration #EnterpriseTechnology #BUMNDigital #PRIVAI #DigitalInnovation

About Me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *